TAFSIR SUFI | SYEIKH KH. AHMAD FUAD SYUKRI, Lc
Tafsir Sufi: Menyingkap Makna Batin dan Rahasia dalam Al-Quran
(Sebuah Kajian Terhadap Karya Syeikh Ahmad Fuad Syukri, Lc.)
Kitab Tafsir Sufi karya Syeikh Ahmad Fuad Syukri, Lc. merupakan salah satu karya monumental dalam dunia tafsir Al-Quran yang menyingkap makna-makna batin dan rahasia-rahasia yang tersembunyi dalam ayat-ayat Allah. Penulisnya, Syeikh Ahmad Fuad Syukri, adalah salah satu alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, yang mendalami ilmu Tafsir. Selain itu, beliau juga dikenal sebagai Wakil Talqin Tarekat Qadariyyah Naqsyabandiyah (TQN) Indonesia. Latar belakang keilmuan dan spiritualitas beliau yang mendalam memberikan warna khusus pada tafsir ini, yang tergolong dalam corak tafsir isyari atau tafsir batin.
Tafsir isyari merupakan metode penafsiran yang tidak hanya mengandalkan pemahaman tekstual, tetapi juga menyelami dimensi spiritual atau esoteris dari ayat-ayat Al-Quran. Tafsir ini berusaha untuk menggali makna terdalam dari teks-teks suci, sehingga dapat memberikan panduan bagi para pembacanya dalam mencapai maqam-maqam spiritual yang lebih tinggi. Dalam tradisi sufi, Al-Quran tidak hanya dipahami sebagai petunjuk lahiriah, tetapi juga sebagai sumber hikmah yang mengandung rahasia-rahasia ilahi. Karya ini sangat relevan bagi mereka yang tertarik untuk memperdalam pemahaman mereka tentang aspek-aspek batiniah Al-Quran.
Biografi Syeikh Ahmad Fuad Syukri, Lc.
Syeikh Ahmad Fuad Syukri lahir dari keluarga yang memiliki tradisi keilmuan dan spiritualitas yang kuat. Beliau adalah cucu dari Syeikh KH. Hamzah Manguluang, yang dikenal sebagai penerjemah Al-Quran tercepat ke dalam bahasa Bugis dan memiliki hubungan erat dengan ulama besar, Syeikh KH. Muhammad As'ad Al Bugisy, pendiri Pondok Pesantren As'Adiyah di Kota Sengkang. Latar belakang ini sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter keilmuan dan spiritualitas beliau.
Setelah menempuh pendidikan di Indonesia, Syeikh Ahmad Fuad melanjutkan studi ke Universitas Al-Azhar, Mesir, di mana beliau mendalami ilmu tafsir. Pengaruh dari keilmuan Al-Azhar yang sangat kaya dengan tradisi tafsir klasik memberikan fondasi yang kokoh bagi beliau dalam memahami teks Al-Quran. Di samping itu, keterlibatan beliau dalam Tarekat Qadariyyah Naqsyabandiyah (TQN) memberikan perspektif tasawuf yang mendalam, yang kemudian menjadi salah satu ciri khas dalam karya tafsirnya.
Tafsir Sufi: Sebuah Penafsiran Isyari
Tafsir Sufi adalah sebuah tafsir isyari, yang berarti penafsiran ini menggunakan pendekatan batin atau simbolik dalam memahami ayat-ayat Al-Quran. Tafsir ini mencoba untuk menggali makna terdalam dari setiap ayat, menyingkap rahasia-rahasia yang tersembunyi yang hanya dapat dipahami oleh mereka yang memiliki mata hati yang tajam.
Tafsir isyari berakar dari tradisi tasawuf, di mana para sufi meyakini bahwa setiap ayat Al-Quran memiliki dimensi lahir dan batin. Dimensi lahir mencakup pemahaman tekstual dan legalistik, sementara dimensi batin mencakup makna-makna spiritual yang lebih mendalam. Sebagaimana dijelaskan oleh para ulama sufi, Al-Quran adalah "samudra" yang tak terhingga kedalamannya, dan hanya mereka yang memiliki kecerdasan spiritual yang dapat menyelami kedalamannya.
Struktur Kitab Tafsir Sufi
Kitab Tafsir Sufi karya Syeikh Ahmad Fuad Syukri disusun dengan struktur yang mendalam dan sistematis. Setiap surah dan ayat dianalisis dari dua perspektif: perspektif lahiriah (tekstual) dan perspektif batiniah (esoteris). Di bagian awal setiap penafsiran ayat, Syeikh Ahmad Fuad memberikan penjelasan mengenai konteks historis, asbabun nuzul (sebab-sebab turunnya ayat), serta penafsiran para ulama tafsir klasik seperti Imam al-Tabari, Imam al-Qurtubi, dan lainnya.
Setelah itu, beliau masuk ke dalam penafsiran batiniah, yang di dalamnya mengandung berbagai simbolisme dan makna-makna isyari yang lebih mendalam. Misalnya, ketika menafsirkan ayat tentang nur (cahaya), Syeikh Ahmad Fuad tidak hanya membahas tentang cahaya dalam pengertian fisik, tetapi juga membahas tentang cahaya sebagai simbol dari pengetahuan ilahi, hidayah, dan pencerahan batin.
Corak Tafsir Isyari dalam Tafsir Sufi
Tafsir isyari memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan tafsir-tafsir lainnya. Tafsir ini tidak hanya berfokus pada makna literal atau hukum-hukum fiqh yang terkandung dalam ayat-ayat Al-Quran, tetapi lebih kepada penggalian makna-makna spiritual dan metafisik yang tersembunyi di balik teks-teks suci. Dalam tradisi sufi, makna lahiriah dari ayat-ayat Al-Quran dianggap sebagai kulit luar, sementara makna batiniah adalah inti atau esensi yang harus digali dengan pemahaman mendalam dan pengalaman spiritual.
Sebagai contoh, ketika menafsirkan ayat yang berbicara tentang perjalanan Nabi Musa dan Nabi Khidr (QS. Al-Kahfi: 60-82), Syeikh Ahmad Fuad tidak hanya membahas kisah tersebut dari perspektif historis, tetapi juga menyingkap makna batin yang terkandung di dalamnya. Nabi Musa dalam kisah tersebut melambangkan akal dan syariat, sementara Nabi Khidr melambangkan ilmu laduni dan hikmah batiniah. Pertemuan antara Musa dan Khidr menjadi simbol pertemuan antara syariat dan hakikat, di mana perjalanan spiritual seseorang harus melewati keduanya untuk mencapai pencerahan sejati.
Hubungan antara Tafsir Sufi dan Tasawuf
Tasawuf dan tafsir isyari memiliki hubungan yang sangat erat. Tasawuf adalah jalan spiritual yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui penyucian jiwa dan pengenalan akan hakikat ilahi. Dalam tradisi tasawuf, Al-Quran dianggap sebagai panduan utama dalam perjalanan spiritual tersebut. Oleh karena itu, para sufi sering kali menafsirkan Al-Quran dengan pendekatan isyari untuk menggali makna-makna yang mendalam dan relevan dengan perjalanan spiritual mereka.
Syeikh Ahmad Fuad Syukri, sebagai seorang ahli tasawuf, memandang Al-Quran sebagai peta spiritual yang harus dipahami tidak hanya dengan akal, tetapi juga dengan hati yang bersih. Beliau meyakini bahwa setiap ayat Al-Quran memiliki pesan tersendiri bagi setiap individu yang membacanya, tergantung pada tingkat spiritualitas dan kesiapan batin pembaca tersebut.
Dalam Tafsir Sufi, beliau sering kali mengutip pemikiran-pemikiran sufi besar seperti Ibn 'Arabi, Al-Ghazali, dan Al-Hallaj untuk memperkuat penafsirannya. Pengaruh dari pemikiran-pemikiran tasawuf ini sangat terasa dalam setiap penafsiran beliau, di mana beliau selalu menekankan pentingnya kebersihan hati, keikhlasan, dan tawakkal dalam memahami makna-makna ilahi yang terkandung dalam Al-Quran.
Pengaruh Tarekat Qadariyyah Naqsyabandiyah dalam Tafsir Sufi
Sebagai Wakil Talqin Tarekat Qadariyyah Naqsyabandiyah (TQN) Indonesia, pengaruh tasawuf dalam karya-karya Syeikh Ahmad Fuad Syukri sangat kental. Tarekat Naqsyabandiyah sendiri dikenal sebagai salah satu tarekat sufi yang sangat menekankan pentingnya dzikir dan penyucian hati dalam mencapai maqam spiritual yang tinggi. Tradisi ini sangat mempengaruhi cara pandang beliau dalam menafsirkan Al-Quran.
Dalam Tafsir Sufi, Syeikh Ahmad Fuad Syukri sering kali mengaitkan makna-makna ayat dengan praktik-praktik tarekat, seperti dzikir, muraqabah, dan muhasabah. Misalnya, ketika menafsirkan ayat-ayat yang berbicara tentang kebersihan hati dan ketenangan jiwa, beliau selalu menekankan pentingnya dzikir sebagai salah satu sarana untuk mencapai kondisi spiritual tersebut. Beliau juga sering kali mengaitkan makna-makna ayat dengan pengalaman spiritual yang dialami oleh para murid tarekat, di mana mereka dapat merasakan langsung pancaran cahaya ilahi melalui dzikir yang khusyuk.
Pengaruh Keluarga dan Tradisi Bugis dalam Karya Syeikh Ahmad Fuad Syukri
Latar belakang keluarga Syeikh Ahmad Fuad Syukri yang berasal dari keluarga ulama besar di Bugis juga memberikan warna tersendiri dalam karya-karya beliau. Kakeknya, Syeikh KH. Hamzah Manguluang, adalah seorang ulama yang sangat dihormati dan

0 Response to "TAFSIR SUFI | SYEIKH KH. AHMAD FUAD SYUKRI, Lc"
Posting Komentar